Senin, 02 Agustus 2010

Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah(Problem solving) pada Siswa

Sering kita jumpai ada orang yang diliputi banyak masalah, tapi diantara orang tersebut tidak mampu menemukan atau mengetahui masalah yang sebenarnya, kalau masalahnya tidak mampu diidentifikasi bagaimana menemukan solusinya. Orang yang mengalami hal tersebut belum memeliki kapabilitas sebagai problem solver masalahnya sendiri. Dan orang seperti itu tidak sedikit, kita sebagai guru berfikir jangan-jangan itu juga produk kita dan sekolah kita. Karena di sekolah lebih mementingkan konsep atau hafalan yang dikuasai, dari pada kapabilitas pemecahan masalah.
Kita menyadari tujuan pembejaran kita tidak hanya meningkatkan perolehan pengetahuan yang berupa fakta maupun konsep saja, tapi tak kalah penting adalah kecakapan hidup(life skills), sebagai contoh yang dibahas dalam tulisan ini adalah pemecahan masalah. Pemecahan masalah merupakan kemampuan yang paling tinggi dalam Intelektual skill, dan saat ini kemampuan tersebut menjadi perhatian dunia untuk dikembangkan.


Kedudukan pemecahan masalah dalam intelektual skill
Intelektual skill adalah kemampuan diri untuk berhubungan dengan lingkunganya dalam bentuk suatu representasi, khususnya konsep dan berbagai lambang atau simbol. Dan intelektual skill terbagi menjadi 5 sub kemampuan yaitu diskriminasi jamak, konsep, kaidah, prinsip dan yang tertinggi adalah kemampuan pemecahan masalah.

Bagaimana membelajarkan Pemecahan masalah

Hal-hal yang diperhatikan dalam membelajarkan kemampuan pemecahan masalah antara lain hirarki subkemampuan dalam intelektual skill, proses pemecahan masalah, dan model pembelajaran yang sesuai. Dua hal tersebut dibahas pada tulisan ini dan model pembelajaran dibahas pada ticher berikutnya.

Hirarki subkemampuan intelektual skill

Dalam membelajarkan kemampuan pemecahan masalah secara keseluruhan guru seharusnya membelajarkan sub kemampuan intelektual skill yang terendah dulu baru kemudian ke sub yang lebih tinggi. Artinya sebelum siswa menguasai kemampuan pemecahan masalah, maka mereka harus menguasai sub kemampuan di bawahnya terlebih dahulu, karena belajar deskriminasi jamak, belajar konsep, kaidah, dan prinsip merupakan prasyarat untuk belajar pemecahan masalah. Sehingga urutannya sebagai berikut.

1. Diskriminasi jamak
Diskriminasi jamak adalah kemampuan dalam membedakan obyek yang satu dengan yang lain. Kemampuan ini berdasarkan hasil pengamatan, hasil pengamatan disebut persepsi. Dengan persepsi ini seseorang mengenal ciri-ciri fisik dari obyek-obyek, baik itu warna, bentuk maupun ukurannya. Sehingga dapat membedakan antara obyek satu dengan obyek lainnya. Siswa yang belum menguasai kemampuan ini akan mengalami kesulitan belajar konsep. Yang perlu ditekankan dalam belajar diskriminasi ini adalah bagaimana kita melatih siswa dalam hal keterampilan “pengamatan” yang benar seperti dibahas pada ticher sebelumnya. Makin teliti pengamatan seseorang maka persepsinya semakin tajam, sehingga menghasilkan kemampuan diskrimasi yang pasti terhadap obyek-obyek yang ditemui dalam kehidupan.

2. Belajar konsep
Konsep dibedakan menjadi dua yakni konsep konkret dan konsep yang didefinisikan, belajar konsep konkret adalah belajar menunjukkan pada obyek-obyek dalam lingkungan fisik seperti meja, kursi, warna dan lainnya. Konsep yang didefinisikan adalah konsep yang mewakili realitas hidup, tapi tidak langsung menunjuk pada lingkungan fisik. Misalnya listrik, saudara sepupu, dan lainnya. Konsep-konsep mendasari pembentukan kaidah, orang tidak tahu konsep bisa salah dalam belajar kaidah.

3. Belajar Kaidah
Tingkatan yang lebih tinggi setelah menguasai deskriminasi jamak dan konsep adalah kaidah, bila dua konsep atau lebih dihubungkan satu sama lain terbentuk suatu ketentuan yang mempresentasikan suatu keteraturan dinamakan kaidah. Misalnya siswa yang telah menguasai konsep “benda,” bulat,” “bidang miring,” dan ‘berguling” insya Allah siswa tersebut mampu menghubungkan konsep tersebut dan dapat menjelaskan bahwa, “ benda yang bulat berguling di bidang miring.”

4. Belajar Prinsip
Prinsip merupakan kombinasi dari beberapa kaidah, berdasarkan prinsip ini orang mampu memecahkan suatu masalah atau problem yang dihadapi. Misalnya siswa yang telah menguasai kaidah “benda yang bulat berguling di bidang miring.” Serta “bidang datar. “ maka untuk mencegah benda berharga yang bentuk bulat agar tidak bergulig di bidang miring, siswa tersebut membuat bidang tersebut datar, atau mengganjal benda tersebut dengan bidang lain, misanya bidang datar.


Proses Pemecahan Masalah

Dalam membelajarkan pemecahan masalah guru harus memahami proses atau langkah pemecahan masalah. Seperti pada matematika Eicholz dalam Wasis(1997) mengemukakan lima langkah yaitu;
1) memahami apa yang ditanyakan,
2) menemukan data yang dibutuhkan,
3) merencanakan apa yang harus dilakukan,
4) menemukan jawaban melalui komputasi, dan
5) mengkoreksi kembali jawaban.

Pendapat para ahli yang lain terdapat tiga langkah, yakni 1) mempresentasikan masalah, 2) mencari berbagai alternative solusi berdasarkan pengetahuan yang dimiliki, dan 3) mengevaluasi solusi yang telah digunakan.
Dari beberapa pendapat ahli tersebut tentunya sebagai guru kita dapat memulai membelajarkan kapabilitas pemecahan masalah kepada siswa dengan menggunakan beberapa model pembelajaran yang sesuai, misalnya model pembelajaran berdasarkan masalah atau PBI yang tahapannya sebagai berikut.

Tahap-1
Orientasi siswa kepada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilihnya.


Tahap-2
Mengorganisasi siswa untuk belajar
Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.

Tahap-3
Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah

Tahap-4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya
Tahap-5
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan
(Diolah dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

RUANG BERTANYA


ShoutMix chat widget